Rabu, 02 Oktober 2019


MAKALAH



Disusun oleh:
Fadhilah Amir Mu’minin
(B95219097)


Dosen:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
 SUNAN AMPEL SURABAYA
2019

KATA PENGANTAR
Pertama marilah kita panjatkan Puji syukur atas kehadiran ALLAH SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai waktu yang telah ditentukan. Salawat dan salam kita curahkan kepada bagina Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabat beliau.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi al-Qur’an. Seperti diketahui Bersama Al Qur’an dapat dipelajari dengan cara yang berbeda dan Al Qur’an sangat penting untuk dipelajari oleh umat Islam. Karena itu dalam makalah ini akan dibahas tentang Al Qur’an dengan Tujuh Huruf.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata kuliah Studi Al Qur’an dan bu Ati’ Nursyafa’ah selaku asisten dosen, yang telah memberikan pengarahan dalam menyusun makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Karena itu, saran dan kritik yang membangun senantiasa saya harapkan demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

                                                                             Fadhilah Amir Mu’minin


                                                                             Surabaya, 19 Agustus 2019


DAFTAR ISI
Halaman judul   ……………………………..
Kata Pengantar ……………………………... 2
Daftar Isi            ……………………………… 3
BAB 1    PEMBAHASAN
TURUNNYA AL QUR’AN DENGAN 7  HURUF
     A. Pengertian Al Qur’an dengan 7 Huruf……..4
     B. Kontroversi Arti Tujuh Huruf …………….13
     C.   Kesimpulan ……………………………...19
DAFTAR PUSTAKA………………………….  20












BAB 1
PEMBAHASAN

 A. Pengertian Al qur’an dengan Tujuh 
      Huruf:
             Suatu kaum berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam Bahasa dari Bahasa Bahasa Arab dengan nama Qur’an yang diturunkan, dengan pengertian bahwa kata kata dalam Al qur’an secara keseluruhan tidak keluar dari 7 macam Bahasa tadi, yaitu Bahasa yang paling fasih dikalangan bangsa Arab, meskipun sebagian besarnya dalam Bahasa Quraisy.
            Pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya , karena yang dimaksud dengan tujuh huruf dalam pendapat ini adalah tujuh huruf yang bertebaran di berbagai surah al Qur’an, bukan tujuh Bahasa yang berbeda dalam kata tetapi sama dalam makna.
            Berkata Abu ‘Ubaid: ”Yang dimaksud bukanlah setiap kata yang boleh dibaca dengan tujuh Bahasa, tetapi tujuh Bahasa yang bertebaran dalam Al Qur’an. Sebagiannya Bahasa Quraisy, sebagian yang lain Bahasa Huzail, Hawazin, Yaman, dan lain lain.” “Sebagian Bahasa itu lebih beruntung karena dominan dalam Al Qur’an. [1]
Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Tujuh Huruf adalah Tujuh Wajah, yaitu: amr (perintah), nahyu (larangan), wa’d (janji), wa’id (ancaman), jadal (perdebatan), qasas (cerita) dan masal (perumpamaan).
Dari Umar bin Khattab pernah berkata : aku pernah mendengar Hisyam bin Hakim membacakan surat Al Furqon di masa hidup Rasullah SAW. Aku perhatikan bacaannya, tiba tiba ia membacakan banyak huruf  yang belum pernah dibacakan oleh Rasullah. Hampir saja aku melabraknya saat ia sedang solat , tetapi aku berusaha sabar ia selesai solat. Begitu ia solat, aku tarik baju Hisyam bin Hakam dan aku pun berkata, “Siapakah yang membacakan (mengajari bacaan ) surat itu kepadamu?”. Aku pun membawa Hisyam bin Hakam kehadapan Rasulullah SAW . dan Hisyam bin Hakam menjawab, “Rasulullah lah  yang mengajariku membaca huruf tersebut.” Umar bin Khattab menjawab, “Berdusta kau, Demi Allah Rasulullah juga telah membacakan ku surat Al Furqon tapi berbeda bacaannya dengan apa yang kau bacakan. Dan Rasulullah pun berkata, Lepaskanlah wahai Umar bin Khattab , bacalah surat tadi wahai Hisyam , Hisyam pun membacakan surat Al Furqon seperti yang dengar Umar tadi. Dan bacalah surat Al Furqon wahai Umar , ia pun membacakan surat Al Furqon . Maka Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya Al Qur’an diturunkan dengan Tujuh Huruf maka bacalah huruf yang mudah , diantara itu.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha        Bijaksana.
Faidah hadist ini , bahwa Al Qur’an diturunkan Allah dengan Tujuh Huruf. Para ulama berpendapat dengan Tujuh Huruf ini. Namun seluruh ulama bersepakat bahwa yang dimaksud dengan Tujuh Huruf bukan tujuh qiraat yang mutawatir.
Pendapat yang kuat tentang Al Qur’an diturunkan dengan Tujuh huruf yaitu tujuh lahjah yang kata katanya agak sedikit berbeda tetapi maknanya sama . Hikmah Al Qur’an diturunkan dengan Tujuh Huruf yaitu untuk mempermudah umatnya membaca Al Qur’an. Pada saat itu Al Qur’an turun kepada sahabat yang berbahasa Arab. [2]Tentu hal ini akan sulit untuk dipelajari dengan satu huruf saja . Sementara dialek berbeda mereka berbeda beda.
Awalnya Al Qur’an diturunkan hanya satu huruf saja. Yaitu dengan dialek Quraisy. Akan tetapi Rasullah SAW meminta Allah SWT agar ditambahi dengan Tujuh Huruf. Hal ini menunjukkan bahwa Rasullah Sallahu Allahi Wasallam sangat sayang kepada seluruh umatnya. Allah SWT pun tidak ingin menyulitkan umatnya.
            Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan tujuh huruf ini dengan perbedaan yang bermacam macam.  Sehingga Ibn Hayyan mengatakan , “Ahli ilmu berbeda pendapat tentang arti kata Tujuh huruf menjadi tiga puluh lima pendapat. Namun kebanyakan pendapat pendapat ini bertumpung tindih. Disini kami akan mengemukakan beberapa pendapat di antaranya yang dianggap paling mendekati kebenaran:
1. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam Bahasa dari bahasa Bahasa arab mengenai satu makna. Dengan pengertian jika Bahasa mereka berbeda beda dalam mengungkapkan satu makna, maka Al Qur’an pun diturunkan dengan sejumlah lafadz sesuai dengan ragam Bahasa tersebut.
            Kemudian mereka berbeda pendapat juga dalam menentukan ketujuh Bahasa itu.
2.  Suatu kaum berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam Bahasa dari Bahasa Bahasa Arab dengan mana Al Qur’an diturunkan. Dengan pengertian bahwa kata kata dalam Al Qur’an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh macam Bahasa tadi, yaitu paling fasih di kalangan bangsa Arab, meskipun sebagian besarnya dalam Bahasa Quraisy.
            Pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya, karena yang dimaksud dengan tujuh huruf dalam pendapat ini adalah tujuh huruf yang bertebaran di berbagai surat Al Qur’an, bukan tujuh Bahasa yang berbeda dalam kata tetapi sama dalam makna.
            Pendapat terkuat dari semua pendapat tersebut adalah pendapat pertama (A), yaitu bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam Bahasa dari Bahasa-bahasa Arab dalam mengungkapkan satu makna yang sama. Misalnya : aqbil, ta’ala, halumma, ajal dan asra’. Lafaz – lafaz yang berbeda ini digunakan untuk menunjukkan satu makna yaitu perintah untuk menghadap. Pendapat ini dipilih oleh Sufyan bin Uyainah, Ibn Jarir, Ibn Wahb dan lainnya. Ibn Abdil Barr menisbahkan pendapat ini kepada sebagian besar ulama dan dalil bagi pendapat ini ialah apa yang terdapat dalam hadis Abu Bakrah berikut :
Artinya : Jibril mengatakan : “wahai Muhammad, bacalah Al Qur’an dengan satu huruf. Lalu Mikail mengatakan : Tambahkanlah. Jibril berkata lagi “Dengan dua huruf” Jibril terus menambahnya hingga sampai dengan enam atau tujuh huruf. Lalu ia berkaa: Semua itu obat penawar yang memadai, selama ayat azab tidak ditutup dengan ayat rahmat, dan ayat rahmat tidak ditutup dengan ayat azab. Seperti kata-kata : halumma, ta’aka, aqbil, izhab, asra’ dan ajal.
            Berkata Ibn Abdil Bar : “maksud hadis ini hanyalah sebagai contoh bagi huruf-huruf yang dengannya Al Qur’an diturunkan. Ketujuh huruf itu mempunyai makna yang sama pengertiannya, tetapi berbeda bunyi ucapannya. Dan tidak satu pun diantaranya yang mempunyai makna yang saling berlawanan atau segi yang berbeda makna dengan segi lain secara kontradiktif dan berlawanan, seperti rahmat yang melupakan lawan dari azab.
1. Pendapat pertama ini didukung pula oleh banyak hadis, antara lain:
Artinya : Seorang lelaki membaca Al Qur’an di dekat Umar umar mara kepadanya. Orang itu berkata : “Sungguh aku telah membacanya di hadapan Rasulullah, tetapi ia tidak marah kepadaku.” Kata perawi . Maka kedua berselisih di hadapan Nabi. Orang itu berkata: “wahai Rasulullah, bukankah engkau membacakan kepadaku ayat itu begini dan begini?” Nabi menjawab: “ya” . Dengan jawaban ini timbullah ketidak puasan dalam hati Umar, dan Nabi mengetahui hal itu di wajahnya. Lalu beliau menepuk-nepuk dada Umar seraya mengatakan: Jauhilah setan. Ucapan ini diulanginya sampai tiga kali. Kemudian katanya pula, “Wahai Umar, Al Qur’an itu seluruhnya adalah benar, selama ayat rahmat tidak dijadikan ayat azab atau ayat azab dijadikan ayat rahmat.
           
Maka janganlah kamu saling berdebat tentang Al Qur’an karena perdebatan mengenainya merupakan suatu kekafiran. Sesungguhnya Allah telah menyuruh aku agar membaca Al Qur’an atas tujuh huruf.
2. Pendapat kedua
            Yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam Bahasa dari bahasa-bahasa Arab dengan nama Al Qur’an diturunkan. Dengan pengertian bahwa kalimat-kalimatnya secara keseluruhan tidak keluar dari  ketujuh Bahasa tadi karena itu maka himpunan Al Qur’an telah mencakupnya dapat dijawab bahwa Bahasa Arab itu lebih banyak dari tujuh macam, di samping itu Umar bin Khattab dan Hisyam bin Hakim kedua-keduanya adalah orang Quraisy yang mempunyai Bahasa yang sama dan kabilah yang sama pula, tetapi qiraat (bacaan) kedua orang itu berbeda .
3. Pendapat ketiga
Yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam hal yang di dalamnya terjadi ikhtilaf. Dijawab bahwa pendapat ini meskipun telah popular dan diterima, tetapi ia tidak dapat tegak di hadapan bukti-bukti dan argumentasi pendapat pertama yang menyatakan dengan tegas sebagai perbedaan dalam beberapa lafaz yang mempunyai makna yang sama. Di samping itu sebagian dari perubahan atau perbedaan yang mereka kemukakan pun hanya terdapat dalam qiraat qiraat ahad. Padahal, tidak diperselisihkan lagi, bahwa segala sesuatu yang berupa Al Qur’an haruslah mutawatir. Begitu juga sebagian besar dari perbedaan-perbedaan itu hanya mengacu kepada bentuk kata atau cara pengucapan nya yang menimbulkan perbedaan lafaz, seperti perbedaan dalam segi I’rab, tasrif, tafkhim, tarqiq, fathah, imalah, izhar, idgam, dan isymam. Perbedaan semacam ini tidak termasuk perbedaan yang bermacam macam dalam lafa dan makna. Sebab cara- cara yang berbeda dalam pengucapan sesuatu lafaz tidak mengeluarkannya dari statusnya sebagai lafaz yang satu.
4. Pendapat keempat 
Yang menyatakan bahwa Al Qur’an dengan Tujuh huruf yaitu perbedaan perubahan yang tujuh. Yaitu pertama perbedaan isim baik itu mufrad, tatsniyah, jama’, mudzakar, dan mu’anats. Kedua perbedaan fi’il antara madli , mudlari dan amr. Ketiga perbedaan bentuk I’rab baik itu lafadz yang menerima perubahan atau tidak pada maknanya. Keempat perbedaan antara naqsh dan ziyadah . Kelima perbedaan antara taqdim dan takhir. Keenam perbedaan dalam ibdal . ketujuh perbedaan antara dialek , seperti imalah , tarqiq ,tafkhim, idhar, idgam dan lainnya.
5. Pendapat kelima 
Hitungan angka tujuh tidak bermakna apa-apa. Hakikah dari maknanya tidak dimaksudkan secara leteral. Yang dimaksudkan tujuh oleh bangsa Arab adalah kesempurnaan dalam bilangannya.

6. Pendapat keenam
Sebagian ulama berpendapat tujuh huruf itu adalah tujuh huruf qiraah.
7. Pendapat ketujuh
            Pendapat terakhir adalah hadis tentang tujuh huruf merupakan hadis yang tidak dijelaskan rasul maknanya. [3]












B. Kontroversi Al Qur’an dengan Tujuh Huruf
            Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam Bahasa yang berbeda yang mempunyai satu makna. Dengan pengertian Bahasa mereka berbeda dalam mengungkapkan satu makna , maka Al Qur’an pun diturunkan dengan sejumlah lafaz sesuai dengann ragam tersebut. Dan jika tidak terdapat perbedaan , maka Qur’an hanya mendatangkan satu lafaz atau lebih saja.
            Dikalangan sahabat terdapat tujuh orang yang sangat terkenal sebagai ahli qiraat , antara lain Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Kaab, Zayd bin Thabit, Ibn Mas’ud, Abu al-Darda, dan Abu Musa Al Ash’ari.
            Para sahabat kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri islam dengan membawa qiraat masing-masing. Hal ini menyebabkan berbeda-beda juga ketika Tabi’ dan tabi’in yang berbeda-beda dalam mengambil qiraat dari pada Tabi’in.
Kemudian mereka berbeda pendapat juga dalam menentukan ketujuh bahasa itu.
Dikatakan bahwa ketujuh Bahasa itu adalah Bahasa Quraisy, Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yaman. [4]
Berdasarkan ketiga pedoman seleksi bacaan Al Qur’an , ada tujuh bacaan yang dipandang memenuhi syarat, yaitu:
1.         Bacaan versi Nafi’. Penyebarannya di Madinah. Nama lengap maha guru bacaan Al Qur’an ini adalah Nafi’ bin Abd al-Rahman bin Abi Nu’aim. Ia belajar baaan Al Qur’an fari Ali bin Ja’far, Abd al-Rahman bin Hurmuz, Muhammad bin Muslim al-Zuhri.
2.         Bacaan versi Ibnu Katsir. Penyebarannya di Makkah. Nama lengkap maha guru bacaan Al Qur’an ini adalah Abdullah bin Katsir al-Makki. Ia belajar bacaan Al Qur’an Mujahid in Jabir, dan Dirbas,. Abdullah bin al-Saib adalah murid dari Ubay bin Ka’ab RA. Dan Umar bin al-Khattab RA Mujahid bin Jabir dan Dirbas . Abdullah bin al-Saib adalah murid dari Ubay bin K’ab RA dan Zaid bin Tsabit RA. Baik Umar, Ubay, Maupun Zaid, ketiganya adalah para sahabat Nabi SAW yang mendapatkan bacaan Al Qur’an langsung dari Nabi SAW.
3.         Bacaan versi Abu Amr. Penyebarannya di Bashrar, Irak. Nama lengkap maha guru bacaan Al Qur’an ini adalah Abu Amr Zaban bin al-Ala’ bin Ammar Al-Syamy. Ia belajar bacaan Al Qur’an dari Abu Ja’far Yazid bin Qa’ qa’ dan Hasan al-Bashri, murid dari al-Haththan dan Abu al-Aliyah. Abu al-Aliyah. Abu al-Aliyah mendapatkannya dari Umar bin al Khattab RA. Dan Ubay bin Ka’ab RA. Kedua sahabat Nabi SAW ini langsung mendapat bacaan Al Qur’an dari Nabi SAW.

4.         Bacaan versi Ibnu Amir. Penyebarannya di Damaskus, Syiria. Nama lengkap maha guru bacaan Al Qur’an ini adalah Abdullah bin Amir bin al-Yashabi. Ia seorang hakim di Damaskus pada masa Khalifah al-Walid bin Abd al-Malik. Ibnu Amir menerima pelajaran bacaan Al Qur’an dari al-Mughirah bin Abi Syihab al-Makhzumi dan Abu Darda RA. Al-Mughirah bin Abi Syihab al-Makhzumi dan Abu Darda’ RA. Al-Mughirah belajar bacaan Al Qur’an kepada Usman bin Affan RA. Abu Darda dan Usman mendapatkannya dari Nabi SAW.
5.         Bacaan versi Ashim. Penyebarannya di Kufah, Irak. Nama lengkap maha guru bacaan Al Qur’an ini adalah Ashim bin Abu al-Najud al-Asady. Ashim belajar bacaan Al Qur’an dari Abu Abd al-Rahman al-Simi, seorang murid dari lima sahabat Nabi SAW: Abdullaha bin Mas’ud, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib , Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit RA. Kelima sahabat Nabi SAW ini mendapatkan bacaan Al Qur’an langsung dari Nabi SAW.
6.         Bacaan versi Hamzah. Penyebarannya di Kufah. Nama lengkap maha guru bacaan Al Qur’an ini adalah Hamzah bin Habib bin Imarah. Ia hidup pada masa khalifah Abu Ja’far al-Mashur. Ia belajar bacaan Al Qur’an dari Ali Sulaiman al-Amasy, Ja’far al-Shadiq, Hamran bin A’yan, dan Manhal bin Amr. Semuanya berguru langsung kepada Nabi SAW.


7.         Bacaan versi al-Kisai. Penyebarannya di Kufah. Nama lengkap maha guru bacaan Al Qur’an ini adalah Ali bin Hamzah al-Kisaiy. Ia belajar bacaan Al Qur’an dari Hamzah, Ismail bin Ja’far, Syu’bah, dan semuanya bersambung langsung kepada Nabi SAW.
Dalam mengajarkan bacaan Al Qur’an kepada para sahabat, Nabi SAW memilihkan bacaan dengan logat sahabat. Tidak sedikit sahabat Nabi SAW berbeda bacaan dengan sahabat lainnya. Karena sahabat Nabi berbeda dalam membaca Al Qur’an. Meski demikian, para sahabat mempelajari macam-macam bacaan dan memahami adanya perbedaan dalam membaca Al Qur’an tersebut. Mereka tidak mempersalahkan masalah perbedaan tersebut, karena bagi mereka itu jika tidak merubah arti bacaan tersebut tidak masalah, sehingga mereka tidak memperdebatkannya. Namun, persoalan ini aneka bacaan ini muncul ketika perbedaan semakin meluas dan menimbulkan perselisihan yang semakin besar. Oleh karena itu , Khalifah Usman RA memberi kebijakan untuk menyatukan macam-macam bacaan. Semula naskah Al Qur’an ditulis dalam aneka macam bacaan (Bahasa), lalu khalifah Usman memerintahkan agar di teliti kembali dan diseragamkan dalam satu bacaan (Bahasa) yaitu  bacaan Quraisy. Kebijakan penyeragaman bacaan ini merupakan solusi atas semakin meluasnya macamnya bacaan Al Qur’an. Namun sahabat Nabi SAW , Usman tidak pernah melarang berbagai bacaan diluar Mushaf Al Qur’an yang telah resmi ditetapkan. Khalifah tidak akan membuat larangan untuk sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah SWT.
Tidak sedikit ulama yang masih mempertahankan dan mengajarkan bacaan bacaan Al Qur’an. Mereka menanamkannya dengan ilmu Al Qira’ah, yakni ilmu tentang cara mengucapkan kalimat-kalimat Al Qur’an dan perbedaannya serta menyatakan kejelasan sumbernya sambung menyambung sampai Nabi SAW. Pada abad kedua Hijriah pula, ilmu Qira’ah dibukukan. Diantara ulama yang menulis buku yang dijadikan standar bacaan Al Qur’an adalah Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, Abu Ja’far al-Thabari, dan Abu Hatim al-Sijistani.
Selain ketujuh versi bacaan di atas, ada versi lain yaitu versi 10 bacaan, yakni tujuh versi bacaan tersebut di tambah tiga versi lainnya, yaitu:
1. Abu Ja’far Yazid bin Qa’ qa wafat 130 H di  Madinah
2. Abu Muhammad Ya’qub bin Ishaq Al-Hadlary wafat di Bashrah
3. Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam Al-A’mmasyi wafat di Baghdad
            Ada versi 14 bacaan yaitu sepuluh bacaan tersebut ditambah empat versi lagi, yaitu :
1. Hasan Al-Bashry wafat 110 H
2. Ibn Munhaish wafat 123 H
3. Yahya Ibnul Mubarak Al-Yazidy wafat 202 H
4. Abul Faraj Ibnul Ahmad al-Syambudzy wafat 388 H
            Namun kualitas atau validitas semua versi tadi tidak sekuat validitas versi 7 bacaan .
            Meskipun diperbolehkan membaca Al Qur’an dengan mengikuti salah satu dari tujuh versi bacan di atas di luar versi Mushaf Al Qur’an, namun hal-hal berikut ini perlu diperhatikan :
1.  Bacaan tersebut harus benar-benar dari salah satu tujuh versi bacaan.
2. Pembaca harus benar-benar mengetahui ilmu tentang bacaan Al Qur’an.
3. Bacaan tersebut tidak membuat kerisauan di kalangan umat Islam.
4.   Bacaan dalam masatu ayat harus tetap pada satu versi, tidak boleh pindah versi yang lain.
            Diantara hikmah di balik banyaknya macam bacaan Al Qur’an adalah sebagai berikut :
1. Mempersatukan bangsa Arab pada masa itu
2. Membuktikan Al Qur’an terpeliharanya dari upaya perubahan maupun penggantiannya
3. Untuk memberikan kemudahan bagi umat Islam, khusunya bangsa Arab. Dan dalam membaca Al Qur’an.    
4. Menunjukkan kelebihan umat Nabi Muhammad SAW dari umat-umat nabi-nabi sebelumnya, karena kitab suci yang diturunkan sebelum Nabi SAW hanya terdiri dari satu bacaan.[5]














KESIMPULAN
Bahwa Al Qur’an dengan Tujuh Huruf itu banyak yang membuat pendapat yang berbeda. Dan pada masa itu Al Qur’an mempunyai Bahasa yang berbeda beda , dan berbagai macam Bahasa. Maka untuk mempersatukan Bahasa maka Usman membuat kebijakan untuk merubah Al Qur’an menjadi satu bacaan saja yaitu bacaan Quraisy. Agar tidak menimbulkan perdebatan. Dan ALLAH tidak menyukai mahluknya berdebat tentang Al Qur’an. Usman tidak melarang jika ada yang masih mempelajari berbagai macam bacaan Al Qur’an walaupun kebijakan Usman untuk mempersatukan bacaan. Walaupun berbagai macam bacaan tetapi tidak merubah arti sesungguhnya Al Qur’an.










DAFTAR PUSTAKA
Ali Aziz, M. Mengenal Tuntas Al Qur’an,Surabaya, IMTIYAZ, 2018, Cet. 3.
Mudzakir. Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an, Bogor, Litera antarnusa, 2013, Cet. 16
Mkd UIN SUNAN AMPEL SURABAYA. Studi Al Qur’an, Uin Sunan Ampel Press, 2014, Cet 7