MAKALAH
Disusun oleh:
Fadhilah Amir
Mu’minin
(B95219097)
Dosen:
Prof. Dr. Moh. Ali
Aziz, M.Ag
Ati’ Nursyafa’ah
M.Kom.I
JURUSAN ILMU
KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Pertama marilah kita panjatkan Puji syukur atas
kehadiran ALLAH SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik sesuai waktu yang telah ditentukan. Salawat dan salam
kita curahkan kepada bagina Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabat
beliau.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu
syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi al-Qur’an. Seperti diketahui
Bersama Al Qur’an dapat dipelajari dengan cara yang berbeda dan Al Qur’an
sangat penting untuk dipelajari oleh umat Islam. Karena itu dalam makalah ini
akan dibahas tentang Al Qur’an dengan Tujuh Huruf.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Moh.
Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata kuliah Studi Al Qur’an dan bu Ati’ Nursyafa’ah
selaku asisten dosen, yang telah memberikan pengarahan dalam menyusun makalah
ini.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam
makalah ini. Karena itu, saran dan kritik yang membangun senantiasa saya
harapkan demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang. Semoga makalah
ini bermanfaat bagi pembaca.
Fadhilah Amir Mu’minin
Surabaya, 19 Agustus 2019
DAFTAR ISI
Halaman judul ……………………………..
Kata Pengantar ……………………………... 2
Daftar Isi ……………………………… 3
BAB 1 PEMBAHASAN
TURUNNYA AL QUR’AN DENGAN 7 HURUF
A. Pengertian Al Qur’an dengan 7 Huruf……..4
B. Kontroversi Arti Tujuh Huruf …………….13
C. Kesimpulan ……………………………...19
DAFTAR
PUSTAKA…………………………. 20
BAB 1
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Al qur’an dengan Tujuh
Huruf:
Suatu
kaum berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam
Bahasa dari Bahasa Bahasa Arab dengan nama Qur’an yang diturunkan, dengan
pengertian bahwa kata kata dalam Al qur’an secara keseluruhan tidak keluar dari
7 macam Bahasa tadi, yaitu Bahasa yang paling fasih dikalangan bangsa Arab,
meskipun sebagian besarnya dalam Bahasa Quraisy.
Pendapat
ini berbeda dengan pendapat sebelumnya , karena yang dimaksud dengan tujuh
huruf dalam pendapat ini adalah tujuh huruf yang bertebaran di berbagai surah
al Qur’an, bukan tujuh Bahasa yang berbeda dalam kata tetapi sama dalam makna.
Berkata
Abu ‘Ubaid: ”Yang dimaksud bukanlah setiap kata yang boleh dibaca dengan tujuh
Bahasa, tetapi tujuh Bahasa yang bertebaran dalam Al Qur’an. Sebagiannya Bahasa
Quraisy, sebagian yang lain Bahasa Huzail, Hawazin, Yaman, dan lain lain.”
“Sebagian Bahasa itu lebih beruntung karena dominan dalam Al Qur’an. [1]
Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan
Tujuh Huruf adalah Tujuh Wajah, yaitu: amr (perintah), nahyu (larangan), wa’d
(janji), wa’id (ancaman), jadal (perdebatan), qasas (cerita) dan masal
(perumpamaan).
Dari Umar bin Khattab pernah berkata : aku pernah
mendengar Hisyam bin Hakim membacakan surat Al Furqon di masa hidup Rasullah
SAW. Aku perhatikan bacaannya, tiba tiba ia membacakan banyak huruf yang belum pernah dibacakan oleh Rasullah.
Hampir saja aku melabraknya saat ia sedang solat , tetapi aku berusaha sabar ia
selesai solat. Begitu ia solat, aku tarik baju Hisyam bin Hakam dan aku pun
berkata, “Siapakah yang membacakan (mengajari bacaan ) surat itu kepadamu?”.
Aku pun membawa Hisyam bin Hakam kehadapan Rasulullah SAW . dan Hisyam bin
Hakam menjawab, “Rasulullah lah yang
mengajariku membaca huruf tersebut.” Umar bin Khattab menjawab, “Berdusta kau,
Demi Allah Rasulullah juga telah membacakan ku surat Al Furqon tapi berbeda
bacaannya dengan apa yang kau bacakan. Dan Rasulullah pun berkata, Lepaskanlah
wahai Umar bin Khattab , bacalah surat tadi wahai Hisyam , Hisyam pun
membacakan surat Al Furqon seperti yang dengar Umar tadi. Dan bacalah surat Al
Furqon wahai Umar , ia pun membacakan surat Al Furqon . Maka Rasulullah SAW
berkata, “Sesungguhnya Al Qur’an diturunkan dengan Tujuh Huruf maka bacalah
huruf yang mudah , diantara itu.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ
إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Artinya: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Faidah hadist ini ,
bahwa Al Qur’an diturunkan Allah dengan Tujuh Huruf. Para ulama berpendapat
dengan Tujuh Huruf ini. Namun seluruh ulama bersepakat bahwa yang dimaksud
dengan Tujuh Huruf bukan tujuh qiraat yang mutawatir.
Pendapat yang kuat tentang
Al Qur’an diturunkan dengan Tujuh huruf yaitu tujuh lahjah yang kata katanya
agak sedikit berbeda tetapi maknanya sama . Hikmah Al Qur’an diturunkan dengan
Tujuh Huruf yaitu untuk mempermudah umatnya membaca Al Qur’an. Pada saat itu Al
Qur’an turun kepada sahabat yang berbahasa Arab. [2]Tentu hal ini akan
sulit untuk dipelajari dengan satu huruf saja . Sementara dialek berbeda mereka
berbeda beda.
Awalnya Al Qur’an
diturunkan hanya satu huruf saja. Yaitu dengan dialek Quraisy. Akan tetapi
Rasullah SAW meminta Allah SWT agar ditambahi dengan Tujuh Huruf. Hal ini
menunjukkan bahwa Rasullah Sallahu Allahi Wasallam sangat sayang kepada seluruh
umatnya. Allah SWT pun tidak ingin menyulitkan umatnya.
Para
ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan tujuh huruf ini dengan perbedaan yang
bermacam macam. Sehingga Ibn Hayyan
mengatakan , “Ahli ilmu berbeda pendapat tentang arti kata Tujuh huruf menjadi
tiga puluh lima pendapat. Namun kebanyakan pendapat pendapat ini bertumpung
tindih. Disini kami akan mengemukakan beberapa pendapat di antaranya yang
dianggap paling mendekati kebenaran:
1. Sebagian besar ulama
berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam Bahasa
dari bahasa Bahasa arab mengenai satu makna. Dengan pengertian jika Bahasa
mereka berbeda beda dalam mengungkapkan satu makna, maka Al Qur’an pun
diturunkan dengan sejumlah lafadz sesuai dengan ragam Bahasa tersebut.
Kemudian mereka berbeda pendapat juga dalam menentukan
ketujuh Bahasa itu.
2. Suatu kaum berpendapat bahwa yang dimaksud
dengan tujuh huruf adalah tujuh macam Bahasa dari Bahasa Bahasa Arab dengan
mana Al Qur’an diturunkan. Dengan pengertian bahwa kata kata dalam Al Qur’an
secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh macam Bahasa tadi, yaitu paling
fasih di kalangan bangsa Arab, meskipun sebagian besarnya dalam Bahasa Quraisy.
Pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya, karena
yang dimaksud dengan tujuh huruf dalam pendapat ini adalah tujuh huruf yang
bertebaran di berbagai surat Al Qur’an, bukan tujuh Bahasa yang berbeda dalam
kata tetapi sama dalam makna.
Pendapat terkuat dari semua pendapat tersebut adalah pendapat
pertama (A), yaitu bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam
Bahasa dari Bahasa-bahasa Arab dalam mengungkapkan satu makna yang sama.
Misalnya : aqbil, ta’ala, halumma, ajal dan asra’. Lafaz – lafaz yang berbeda
ini digunakan untuk menunjukkan satu makna yaitu perintah untuk menghadap.
Pendapat ini dipilih oleh Sufyan bin Uyainah, Ibn Jarir, Ibn Wahb dan lainnya.
Ibn Abdil Barr menisbahkan pendapat ini kepada sebagian besar ulama dan dalil
bagi pendapat ini ialah apa yang terdapat dalam hadis Abu Bakrah berikut :
Artinya : Jibril
mengatakan : “wahai Muhammad, bacalah Al Qur’an dengan satu huruf. Lalu Mikail
mengatakan : Tambahkanlah. Jibril berkata lagi “Dengan dua huruf” Jibril terus
menambahnya hingga sampai dengan enam atau tujuh huruf. Lalu ia berkaa: Semua
itu obat penawar yang memadai, selama ayat azab tidak ditutup dengan ayat
rahmat, dan ayat rahmat tidak ditutup dengan ayat azab. Seperti kata-kata :
halumma, ta’aka, aqbil, izhab, asra’ dan ajal.
Berkata Ibn Abdil Bar : “maksud hadis ini hanyalah
sebagai contoh bagi huruf-huruf yang dengannya Al Qur’an diturunkan. Ketujuh
huruf itu mempunyai makna yang sama pengertiannya, tetapi berbeda bunyi
ucapannya. Dan tidak satu pun diantaranya yang mempunyai makna yang saling
berlawanan atau segi yang berbeda makna dengan segi lain secara kontradiktif
dan berlawanan, seperti rahmat yang melupakan lawan dari azab.
1. Pendapat pertama ini
didukung pula oleh banyak hadis, antara lain:
Artinya : Seorang
lelaki membaca Al Qur’an di dekat Umar umar mara kepadanya. Orang itu berkata :
“Sungguh aku telah membacanya di hadapan Rasulullah, tetapi ia tidak marah kepadaku.”
Kata perawi . Maka kedua berselisih di hadapan Nabi. Orang itu berkata: “wahai
Rasulullah, bukankah engkau membacakan kepadaku ayat itu begini dan begini?”
Nabi menjawab: “ya” . Dengan jawaban ini timbullah ketidak puasan dalam hati
Umar, dan Nabi mengetahui hal itu di wajahnya. Lalu beliau menepuk-nepuk dada
Umar seraya mengatakan: Jauhilah setan. Ucapan ini diulanginya sampai tiga
kali. Kemudian katanya pula, “Wahai Umar, Al Qur’an itu seluruhnya adalah
benar, selama ayat rahmat tidak dijadikan ayat azab atau ayat azab dijadikan
ayat rahmat.
Maka janganlah kamu
saling berdebat tentang Al Qur’an karena perdebatan mengenainya merupakan suatu
kekafiran. Sesungguhnya Allah telah menyuruh aku agar membaca Al Qur’an atas
tujuh huruf.
2. Pendapat kedua
Yang
mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam Bahasa
dari bahasa-bahasa Arab dengan nama Al Qur’an diturunkan. Dengan pengertian
bahwa kalimat-kalimatnya secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh Bahasa tadi karena itu maka himpunan
Al Qur’an telah mencakupnya dapat dijawab bahwa Bahasa Arab itu lebih banyak
dari tujuh macam, di samping itu Umar bin Khattab dan Hisyam bin Hakim
kedua-keduanya adalah orang Quraisy yang mempunyai Bahasa yang sama dan kabilah
yang sama pula, tetapi qiraat (bacaan) kedua orang itu berbeda .
3. Pendapat ketiga
Yang menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam hal yang di dalamnya
terjadi ikhtilaf. Dijawab bahwa pendapat ini meskipun telah popular dan diterima,
tetapi ia tidak dapat tegak di hadapan bukti-bukti dan argumentasi pendapat
pertama yang menyatakan dengan tegas sebagai perbedaan dalam beberapa lafaz
yang mempunyai makna yang sama. Di samping itu sebagian dari perubahan atau
perbedaan yang mereka kemukakan pun hanya terdapat dalam qiraat qiraat ahad.
Padahal, tidak diperselisihkan lagi, bahwa segala sesuatu yang berupa Al Qur’an
haruslah mutawatir. Begitu juga sebagian besar dari perbedaan-perbedaan itu
hanya mengacu kepada bentuk kata atau cara pengucapan nya yang menimbulkan
perbedaan lafaz, seperti perbedaan dalam segi I’rab, tasrif, tafkhim, tarqiq,
fathah, imalah, izhar, idgam, dan isymam. Perbedaan semacam ini tidak termasuk
perbedaan yang bermacam macam dalam lafa dan makna. Sebab cara- cara yang
berbeda dalam pengucapan sesuatu lafaz tidak mengeluarkannya dari statusnya
sebagai lafaz yang satu.
4. Pendapat keempat
Yang menyatakan bahwa
Al Qur’an dengan Tujuh huruf yaitu perbedaan perubahan yang tujuh. Yaitu
pertama perbedaan isim baik itu mufrad, tatsniyah, jama’, mudzakar, dan
mu’anats. Kedua perbedaan fi’il antara madli , mudlari dan amr. Ketiga
perbedaan bentuk I’rab baik itu lafadz yang menerima perubahan atau tidak pada
maknanya. Keempat perbedaan antara naqsh dan ziyadah . Kelima perbedaan antara
taqdim dan takhir. Keenam perbedaan dalam ibdal . ketujuh perbedaan antara
dialek , seperti imalah , tarqiq ,tafkhim, idhar, idgam dan lainnya.
5. Pendapat kelima
Hitungan angka tujuh
tidak bermakna apa-apa. Hakikah dari maknanya tidak dimaksudkan secara leteral.
Yang dimaksudkan tujuh oleh bangsa Arab adalah kesempurnaan dalam bilangannya.
6. Pendapat keenam
Sebagian ulama
berpendapat tujuh huruf itu adalah tujuh huruf qiraah.
7. Pendapat ketujuh
Pendapat terakhir adalah hadis tentang tujuh huruf
merupakan hadis yang tidak dijelaskan rasul maknanya. [3]
B. Kontroversi Al Qur’an dengan Tujuh Huruf
Sebagian
besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh
macam Bahasa yang berbeda yang mempunyai satu makna. Dengan pengertian Bahasa
mereka berbeda dalam mengungkapkan satu makna , maka Al Qur’an pun diturunkan
dengan sejumlah lafaz sesuai dengann ragam tersebut. Dan jika tidak terdapat
perbedaan , maka Qur’an hanya mendatangkan satu lafaz atau lebih saja.
Dikalangan
sahabat terdapat tujuh orang yang sangat terkenal sebagai ahli qiraat , antara
lain Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Kaab, Zayd bin Thabit, Ibn
Mas’ud, Abu al-Darda, dan Abu Musa Al Ash’ari.
Para
sahabat kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri islam dengan membawa qiraat
masing-masing. Hal ini menyebabkan berbeda-beda juga ketika Tabi’ dan tabi’in
yang berbeda-beda dalam mengambil qiraat dari pada Tabi’in.
Kemudian mereka berbeda pendapat juga dalam menentukan
ketujuh bahasa itu.
Dikatakan bahwa ketujuh Bahasa itu adalah Bahasa
Quraisy, Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yaman. [4]
Berdasarkan ketiga pedoman seleksi bacaan Al Qur’an ,
ada tujuh bacaan yang dipandang memenuhi syarat, yaitu:
1. Bacaan
versi Nafi’. Penyebarannya di Madinah. Nama lengap maha guru bacaan Al Qur’an
ini adalah Nafi’ bin Abd al-Rahman bin Abi Nu’aim. Ia belajar baaan Al Qur’an
fari Ali bin Ja’far, Abd al-Rahman bin Hurmuz, Muhammad bin Muslim al-Zuhri.
2. Bacaan
versi Ibnu Katsir. Penyebarannya di Makkah. Nama lengkap maha guru bacaan Al
Qur’an ini adalah Abdullah bin Katsir al-Makki. Ia belajar bacaan Al Qur’an
Mujahid in Jabir, dan Dirbas,. Abdullah bin al-Saib adalah murid dari Ubay bin
Ka’ab RA. Dan Umar bin al-Khattab RA Mujahid bin Jabir dan Dirbas . Abdullah
bin al-Saib adalah murid dari Ubay bin K’ab RA dan Zaid bin Tsabit RA. Baik
Umar, Ubay, Maupun Zaid, ketiganya adalah para sahabat Nabi SAW yang
mendapatkan bacaan Al Qur’an langsung dari Nabi SAW.
3. Bacaan
versi Abu Amr. Penyebarannya di Bashrar, Irak. Nama lengkap maha guru bacaan Al
Qur’an ini adalah Abu Amr Zaban bin al-Ala’ bin Ammar Al-Syamy. Ia belajar
bacaan Al Qur’an dari Abu Ja’far Yazid bin Qa’ qa’ dan Hasan al-Bashri, murid
dari al-Haththan dan Abu al-Aliyah. Abu al-Aliyah. Abu al-Aliyah mendapatkannya
dari Umar bin al Khattab RA. Dan Ubay bin Ka’ab RA. Kedua sahabat Nabi SAW ini
langsung mendapat bacaan Al Qur’an dari Nabi SAW.
4. Bacaan
versi Ibnu Amir. Penyebarannya di Damaskus, Syiria. Nama lengkap maha guru
bacaan Al Qur’an ini adalah Abdullah bin Amir bin al-Yashabi. Ia seorang hakim
di Damaskus pada masa Khalifah al-Walid bin Abd al-Malik. Ibnu Amir menerima
pelajaran bacaan Al Qur’an dari al-Mughirah bin Abi Syihab al-Makhzumi dan Abu
Darda RA. Al-Mughirah bin Abi Syihab al-Makhzumi dan Abu Darda’ RA. Al-Mughirah
belajar bacaan Al Qur’an kepada Usman bin Affan RA. Abu Darda dan Usman
mendapatkannya dari Nabi SAW.
5. Bacaan
versi Ashim. Penyebarannya di Kufah, Irak. Nama lengkap maha guru bacaan Al
Qur’an ini adalah Ashim bin Abu al-Najud al-Asady. Ashim belajar bacaan Al
Qur’an dari Abu Abd al-Rahman al-Simi, seorang murid dari lima sahabat Nabi
SAW: Abdullaha bin Mas’ud, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib , Ubay bin
Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit RA. Kelima sahabat Nabi SAW ini mendapatkan bacaan
Al Qur’an langsung dari Nabi SAW.
6. Bacaan
versi Hamzah. Penyebarannya di Kufah. Nama lengkap maha guru bacaan Al Qur’an
ini adalah Hamzah bin Habib bin Imarah. Ia hidup pada masa khalifah Abu Ja’far
al-Mashur. Ia belajar bacaan Al Qur’an dari Ali Sulaiman al-Amasy, Ja’far
al-Shadiq, Hamran bin A’yan, dan Manhal bin Amr. Semuanya berguru langsung
kepada Nabi SAW.
7. Bacaan
versi al-Kisai. Penyebarannya di Kufah. Nama lengkap maha guru bacaan Al Qur’an
ini adalah Ali bin Hamzah al-Kisaiy. Ia belajar bacaan Al Qur’an dari Hamzah,
Ismail bin Ja’far, Syu’bah, dan semuanya bersambung langsung kepada Nabi SAW.
Dalam mengajarkan bacaan Al Qur’an kepada para
sahabat, Nabi SAW memilihkan bacaan dengan logat sahabat. Tidak sedikit sahabat
Nabi SAW berbeda bacaan dengan sahabat lainnya. Karena sahabat Nabi berbeda
dalam membaca Al Qur’an. Meski demikian, para sahabat mempelajari macam-macam
bacaan dan memahami adanya perbedaan dalam membaca Al Qur’an tersebut. Mereka
tidak mempersalahkan masalah perbedaan tersebut, karena bagi mereka itu jika
tidak merubah arti bacaan tersebut tidak masalah, sehingga mereka tidak
memperdebatkannya. Namun, persoalan ini aneka bacaan ini muncul ketika
perbedaan semakin meluas dan menimbulkan perselisihan yang semakin besar. Oleh
karena itu , Khalifah Usman RA memberi kebijakan untuk menyatukan macam-macam
bacaan. Semula naskah Al Qur’an ditulis dalam aneka macam bacaan (Bahasa), lalu
khalifah Usman memerintahkan agar di teliti kembali dan diseragamkan dalam satu
bacaan (Bahasa) yaitu bacaan Quraisy.
Kebijakan penyeragaman bacaan ini merupakan solusi atas semakin meluasnya
macamnya bacaan Al Qur’an. Namun sahabat Nabi SAW , Usman tidak pernah melarang
berbagai bacaan diluar Mushaf Al Qur’an yang telah resmi ditetapkan. Khalifah
tidak akan membuat larangan untuk sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah SWT.
Tidak sedikit ulama yang masih mempertahankan dan
mengajarkan bacaan bacaan Al Qur’an. Mereka menanamkannya dengan ilmu Al
Qira’ah, yakni ilmu tentang cara mengucapkan kalimat-kalimat Al Qur’an dan
perbedaannya serta menyatakan kejelasan sumbernya sambung menyambung sampai
Nabi SAW. Pada abad kedua Hijriah pula, ilmu Qira’ah dibukukan. Diantara ulama
yang menulis buku yang dijadikan standar bacaan Al Qur’an adalah Abu Ubaid
al-Qasim bin Sallam, Abu Ja’far al-Thabari, dan Abu Hatim al-Sijistani.
Selain ketujuh versi bacaan di atas, ada versi lain yaitu
versi 10 bacaan, yakni tujuh versi bacaan tersebut di tambah tiga versi
lainnya, yaitu:
1. Abu Ja’far Yazid bin Qa’ qa wafat 130 H di Madinah
2. Abu Muhammad Ya’qub bin Ishaq Al-Hadlary wafat di
Bashrah
3. Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam Al-A’mmasyi wafat di
Baghdad
Ada
versi 14 bacaan yaitu sepuluh bacaan tersebut ditambah empat versi lagi, yaitu
:
1. Hasan Al-Bashry wafat 110 H
2. Ibn Munhaish wafat 123 H
3. Yahya Ibnul Mubarak Al-Yazidy wafat 202 H
4. Abul Faraj Ibnul Ahmad al-Syambudzy wafat 388 H
Namun
kualitas atau validitas semua versi tadi tidak sekuat validitas versi 7 bacaan .
Meskipun
diperbolehkan membaca Al Qur’an dengan mengikuti salah satu dari tujuh versi
bacan di atas di luar versi Mushaf Al Qur’an, namun hal-hal berikut ini perlu
diperhatikan :
1. Bacaan
tersebut harus benar-benar dari salah satu tujuh versi bacaan.
2. Pembaca harus benar-benar mengetahui ilmu tentang
bacaan Al Qur’an.
3. Bacaan tersebut tidak membuat kerisauan di kalangan
umat Islam.
4. Bacaan
dalam masatu ayat harus tetap pada satu versi, tidak boleh pindah versi yang
lain.
Diantara
hikmah di balik banyaknya macam bacaan Al Qur’an adalah sebagai berikut :
1. Mempersatukan bangsa Arab pada masa itu
2. Membuktikan Al Qur’an terpeliharanya dari upaya
perubahan maupun penggantiannya
3. Untuk memberikan kemudahan bagi umat Islam,
khusunya bangsa Arab. Dan dalam membaca Al Qur’an.
4. Menunjukkan kelebihan umat Nabi Muhammad SAW dari
umat-umat nabi-nabi sebelumnya, karena kitab suci yang diturunkan sebelum Nabi
SAW hanya terdiri dari satu bacaan.[5]
KESIMPULAN
Bahwa Al Qur’an dengan Tujuh Huruf itu banyak yang
membuat pendapat yang berbeda. Dan pada masa itu Al Qur’an mempunyai Bahasa
yang berbeda beda , dan berbagai macam Bahasa. Maka untuk mempersatukan Bahasa
maka Usman membuat kebijakan untuk merubah Al Qur’an menjadi satu bacaan saja
yaitu bacaan Quraisy. Agar tidak menimbulkan perdebatan. Dan ALLAH tidak
menyukai mahluknya berdebat tentang Al Qur’an. Usman tidak melarang jika ada
yang masih mempelajari berbagai macam bacaan Al Qur’an walaupun kebijakan Usman
untuk mempersatukan bacaan. Walaupun berbagai macam bacaan tetapi tidak merubah
arti sesungguhnya Al Qur’an.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Aziz, M. Mengenal
Tuntas Al Qur’an,Surabaya, IMTIYAZ, 2018, Cet. 3.
Mudzakir. Studi
Ilmu-Ilmu Al Qur’an, Bogor, Litera antarnusa, 2013, Cet. 16
Mkd UIN SUNAN
AMPEL SURABAYA. Studi Al Qur’an, Uin Sunan Ampel Press, 2014, Cet 7
Terimakasih kak telah berbagi ilmu yang bermanfaat, ditunggu karya selanjutnya
BalasHapusMasyaallah terimakasih sudah berbagi ilmunya semoga bermanfaat bagi pembaca aamin
BalasHapusAlhamdulillah sudah bisa bikin blogger nih, Semangat trs yaaa , semoga semakin progress terus ,semoga lulus dgn cpt,sabar menghadapi tugas² skripsi lainnya
BalasHapusoke makasih ;)
HapusBagus, menambah wawasan, semoga bermanfaat buat sobat yang membacanya, mungkin ada sedikit pengetikan kata yang belum benar bisa dibenahi.
BalasHapussangat ringkas dan bermanfaat. smoga selalu membagikan ilmunya ya kak
BalasHapussemoga makin bergembang bloggernyaaaa fadd
BalasHapusMasyaAllah, sangat bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Semoga semakin berkembang blognya
BalasHapusAllahhh..... Bermanfaat sekali ilmunya buat semua umat islam..terima kasih telah berbagi ilmu yang bermanfaat.. Tetap semangat untuk mengembangkan ilmu agamanya kakak ifad
BalasHapusSangat bermanfaat bagi pembaca, ditunggu karya selanjutnya, sukses selalu kak
BalasHapusDengan membaca makalah ini, menambah wawasan kita, terimakasih semoga bermanfaat
BalasHapusSemoga bisa bermanfaat bagi semua orang yang membaca dan memahami nya
BalasHapusCukup mudah dipahami
BalasHapusTerimakasih, blog ini sangat bermanfaat bagi saya. Sering sering update.
BalasHapusMasyaallah sangat sangat informatif blog ini saye suka saye suka
BalasHapusMantap slurrrr :v
BalasHapusYa ampun Aa' Ipad.... gak nyangka gue... Aa' bisa nulis beginian.
BalasHapusWalau males baca, Gua dukung Aa' untuk terus maju dalam dunia literasi ya Aa'... :)
Semoga menjadi Penulis dan ulama' yang baik dan benar.
Ditunggu karya selanjutnya Aa'...
I love you... Keep Spirit.... 😚😚😚
okee broo makasi:v
HapusIsinya mengandung informasi yg berfaedah, insya Allah tidak hoax dan semangat menulis terus ipad kuuh 😆💪
BalasHapusAstaghfirullah,bermanfaat sekali..semangat terus kawan 🙏
BalasHapusMenurut saya kajian buku tersebut sangat mudah dipahami tapi mungkin bagi orang orang awam sedikit sulit kajian ini menjelaskan tentang filosofi quran yg mendalam dan sakral yg perlu diketahui
BalasHapusAlhamdulillah ilmunya semoga bermanfaat bagi yang lainnya untuk pembelajaran kita
BalasHapusalhamdulillah ilmunya sangat berguna untuk saya orang tuban terima kasih mas
BalasHapusbagus sekali thanx to upload,semoga bermanfaat bagi saya dan yang membaca
BalasHapussubhanaallah masyaallah makalahnyaa sangat membantuu materinya juugaa mudah diapahami semoga kedepannya makin baik lagi aamiin aamiin
BalasHapusterima kasih sudah membagikan ilmunya sangat bermanfaat sekali kak, semoga berkah yaa tapi kayaknya itu ada yang kurang yaa ga ada logonya?
BalasHapusMakalahnya bagus sekali kak,semoga bermanfaat bagi para pembaca dan menginspirasi para pembaca aminnnn
BalasHapusTerima kasih mas fadhilah atas ilmunya, semoga bermanfaat bagi saya dan siapapun yang membacanya
BalasHapusكان محمّد نائما في فراسه والسّاعة عشر والّيل كلّه ظلم و برد والدّنيا ساكنة
BalasHapusblog ini sangat bermanfaat untuk saya karena bisa mempermudah tugas tugas saya
BalasHapusTerimakasih kak, blog ini memberi saya pengetahuan baru tentang al quran
BalasHapusYang punya blog ini suruh saya untuk komen terserah apa aja ya sudah saya komen apa saja
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusWow, saya setelah membaca ini langsung sangat pintar, saya sangat terinspirasi sekali waw. Membaca ini lebih baik dari pada melihat instastory anya geraldine. Wow saya akan memberitahu Umat Lucu bahwa ada artikel yg sangat luar biasa ini.
BalasHapus#UmatLucu
#MLI
Apaan sih
BalasHapusKoat hade euy bermanfaat pokoknamah, bermanfaat keur nu maca!
BalasHapusTerimakasih sudah membagikan ilmunya
BalasHapusTerima kasih sudah mampir
BalasHapusTerima kasih sudah mampir
BalasHapusMasyaallah sangat bermanfaat sekali, semoga bisa berguna untuk yg lain, Amiin
BalasHapusterima kasih, setelah membaca blog ini ilmu agama saya bertambah
BalasHapusterima kasih ya kak sudah membagikan ilmunya sangat bermanfaat sekali kak, sangat menambah wawasan👍
BalasHapus